socmed

Monday, March 16, 2015

Menang Undian? Jangan Langsung Percaya!

 Pagi ini, dapat SMS begini:

sms tipu

Hiyaa.. ada lagi nih. Aku udah tahu sih kalau ini pasti modus. Kali ini aku cuma pengen share aja, hal-hal yang menyebabkanku semakin yakin bahwa ini adalah penipuan.
Too Good To Be True.
Helooo.. rejeki nomplok 15 juta? Bonusku Oriflame aja belum ada sepertiganya.. itu pun harus kerja keras memperjuangkan. Lha ini? Uang gampang.. No, tidak mungkin.

Yuk kita mulai ngecek dari informasi yang tercantum di SMS ya..

Si pengirim SMS mencantumkan contact yang “nampak jelas” disitu, berupa alamat website dan nomer telpon. Untuk kehati-hatian, aku memilih cek website. Dan apa hasilnya? Bisa dilihat pada gambar ini.

fiestapoin 

Wow. Nampak meyakinkan sekilas ya. Ada gambar uangnya, ada foto orang nerima hadiah, ada tombol-tombol link ke fasilitas-fasilitas yang umumnya ada di sebuah corporate website. Alamatnya pun profesional, pake dotcom. Bukan pake embel-embel website gratisan.. Ada list kode pin pemenang, yang kode di SMS ku ada juga di sana. Tapi tunggu.. aku familiar dengan template website ini.
blospot 

Yak benar. Ini template standar di blog gratisan. Aku coba buka blogku yang satu, dan template ini ada di salah satu pilihan. Tampilan di atas, waktu aku coba preview tampilan blog ku kalau diganti dengan template tersebut.

Kesimpulannya: walaupun web (blog sebenarnyaaa) ini bernama dotcom, sebenarnya dia dibuat di platform blog gratisan. Si pembuatnya modal dikit lah, dengan menghilangkan embel-embel nama gratisannya, ya paling cuma beberapa ratus ribu. Bandingkan dengan pendapatan dia dari orang yang setor “pajak hadiah”. Hmmm.. Tidak seberapa. Ya namanya usaha kan butuh modal iya kaaaan..

Selain itu, untuk lebih meyakinkan, coba cari link di web ini yang menuju web utama http://www.indosat.com, atau sebaliknya dari sana ke web ini. Zonk!

Masih belum puas? Cek nomer telepon yang ada di SMS. Bandingkan dengan no telpon yang aku ambil dari website resmi Indosat.

f 

Nah. Sudah cukup kayaknya ya.. Mudah-mudahan teman-teman juga lebih berhati-hati setiap menerima informasi serupa. Oh iya, pihak Indosat juga sudah memberikan warning dengan link berikut ini:
http://indosat.com/id/personal/support/contact-us/waspada-situs-penipuan-mengatasnamakan-indosat

Tulisan ini aku buat karena aku mengalami sendiri. Kemungkinan hal ini bisa terjadi pada pengguna provider lain juga. Semoga bermanfaat ya..

Artikel Asli

Sunday, April 21, 2013

Berapa Usia Pake Make Up Kita?


Beberapa hari yang lalu, dapet pertanyaan dari seorang teman tentang usia pakai lipstik. Jadi kepikiran, iya ya, selama ini kita jarang banget memperhatikan, usia pakai dari make up yang kita punya. Main pakai aja, kalau habis ya beli lagi, kalau belum habis gak peduli umurnya udah berapa lama ya dipake terus.. Jadi aku browsing, dan nemu, ternyata kalau:

  1. Concealer : bisa dipake sampai 1 tahun
  2. Bedak: bisa sampai 2 tahun
  3. Pembersih dalam bentuk krim dan gel: 1 tahun
  4. Eye liner pensil: sampai 3 tahun, harus selalu diraut tajam
  5. Eyeshadow: bisa sampai 3 tahun. Tips tambahan: eyeshadow gelap bisa sekaligus berfungsi sebagai eyeliner lho.. pakainya dengan kuas kecil.
  6. Kuas: cuci setiap 2-3 bulan sekali dengan detergen lembut
  7. Spon: cuci seminggu sekali, dan diganti setiap bulan (apaaaa? Tiap bulan??? Hehe)
  8. Foundation: cek bahannya.. kalau foundie berbahan dasar air bisa 1 tahun, berbahan dasar minyak bisa 1,5 tahun. Tips tambahan: kalau foundie berbahan air mengering, bisa ditetesi beberapa tetes toner non alkohol, tapi kalau yg minyak jangan ya..
  9. Lip liner: 3 tahun
  10. Lipstick: 1-2 tahun, ada yang bilang sampai 4 tahun. Tapi kalau lipstik sudah berbau tengik, lebih baik jangan dipakai lagi. Tips tambahan: kalau disimpan di kulkas bisa lebih awet.
  11. Maskara: 4 bulan saja.. Tips tambahan: kalau ingin maskara lebih awet, jangan terlalu sering memainkan batang maskara keluar masuk wadah (seperti gerakan memompa) karena ini hanya akan memasukkan lebih banyak udara ke dalam, yang mengurangi keawetannya..
  12. Cat kuku: 1 tahun, kalau belum kering duluan, hehe..


Nah segitu dulu.. mudah-mudahan bermanfaat yaaaa.. 

Sumber: http://beauty.about.com/od/makeuptrickstips/a/shelflife.htm


Wednesday, October 31, 2012

Tantangan Orang Tua: Apakah Anak Harus Pintar di Sekolah?

Sudah lama saya ingin sekali menulis tentang ini. Tulisan ini diilhami dari pengalaman yang ada di sekitar, baik pengalaman sendiri maupun orang lain, yang saya lihat sendiri ataupun saya baca di tulisan-tulisan.

Keinginan itu semakin kuat ketika beberapa hari yang lalu di salah satu acara talkshow di televisi, host-nya mengatakan sesuatu yang saya harus setuju. Katanya kurang lebih begini "Apakah anak kita harus pintar di sekolah seperti gurunya yang mengajarkan? Untuk pelajaran matematika memang guru matematika menguasai. Tapi coba guru matematika kita suruh mengajar bahasa, belum tentu bisa bukan? Begitu juga dengan anak kita. Guru saja hanya menguasai pelajaran tertentu yang menjadi bidang ilmunya. Lalu bagaimana bisa kita mengharapkan anak kita pintar dan menguasai semua pelajaran yang didapatkannya di sekolah?"  *iya ya, betul juga..

Itu belum semua. Masih ada lagi, "Kalau anak kita kurang bisa pelajaran matematika tapi sangat suka dan bagus dalam bidang seni rupa. Biasanya kita cenderung me-les-kan anak kita matematika, tapi yang nilainya sudah bagus ditinggalkan." *yang ini juga sering terjadi..

Image courtesy of David Castillo Dominici at FreeDigitalPhotos.net
"Aduh naaak, belajar dong! Gimana sih, masak soal kayak gini gampangnya kamu nggak bisa ngerjainnya?"

Terus terang saya sudah sangat bersyukur ketika akhirnya anak pertama saya diterima di sekolahnya yang sekarang. Pada waktu wawancara dengan orang tua, gurunya sudah mengatakan bahwa sekolah tersebut beban pelajarannya cukup berat, dan meminta kerjasama orang tua dalam membimbing anaknya belajar agar anak tetap bersemangat bersekolah. Oke, dalam hati saya sanggupi, satu yang saya inginkan adalah anak saya mendapatkan pendidikan yang baik di sekolah ini, dan dia tetap bersemangat. 

Tantangan pertama: anak saya termasuk introvert dan susah berteman. Dulu saja waktu di playgroup harus sampai beberapa bulan ditunggui di sekolah tiap hari. Untung saja kemudian ada anak tetangga yang ikut sekolah di sana, kebetulan anaknya pemberani, sehingga tidak mau ditunggui. Alhamdulillah, anak saya akhirnya mau ditinggal. Aduh, bagaimana ya nanti di SD? Saya sudah membayangkan bahwa anak saya akan kesulitan menyesuaikan diri. Berdoa.. Terus berdoa, semoga Allah SWT memudahkan langkah anak saya. Nah di SD-nya ini, kebetulan sahabatnya waktu TK juga diterima di sekolah yang sama, dan di kelas yang sama juga. Sebuah keuntungan besar bagi saya, tidak perlu menungguinya di hari-hari pertama, walaupun sekolah memberikan kesempatan selama 1 minggu pertama. Dan saat ini dia juga sudah mau berteman dengan anak-anak lain yang sekelas, bahkan juga yang beda kelas. Satu tantangan terlewati..

Tantangan kedua: menjaga semangat anak dalam mengerjakan tugas PR dan belajar. Tidak semua sekolah mengadakan PR, saya tahu. Ada sekolah yang mengunggulkan sistem bahwa anak hanya belajar di sekolah saja, di rumah mereka bebas bermain. Ya, tapi sekolah anak saya tidak. Daripada berdebat tentang sistem ini dan itu, saya berusaha menjalani saja apa yang ada di depan mata. Anak saya belum genap 7 tahun, dia masih suka sekali bermain, apalagi sejak dia bisa naik sepeda. Tiap siang sampai sore selalu dihabiskannya dengan main sepeda. Tugas saya sebagai orang tua tentunya mengingatkan dia akan tanggung jawabnya belajar dan mengerjakan PR. Itu pun saya harus sangat berhati-hati karena takut dia merasa terpaksa dalam mengerjakannya. Yang saya lakukan adalah biasanya bertanya, "Mbak, ada PR nggak? Sudah dikerjakan belum?" Dan saya sengaja tidak menungguinya kalau tidak diminta, karena saya kuatir dia akan merasa terintimidasi. Paling kalau sudah selesai dia akan menunjukkan hasilnya, dan saya cek kalau ada kesalahan. Untuk belajar, biasanya saya sempatkan cek buku-buku pelajaran sekolahnya, dan ikut mempelajari materinya (sambil lalu tentunya, hehe). Dalam kesempatan tertentu, materi-materi tersebut saya angkat dengan pertanyaan sederhana. Kecuali ketika akan UTS kemarin, memang secara khusus saya mengajak anak saya mengingat-ingat pelajaran yang sudah diberikan. Sesantai mungkin, sesederhana mungkin..

Itu baru dua, masih banyak lagi tantangan lain.. Dan tekad saya, jangan sampai anak saya yang harus merasakan bebannya..

Saya hanya menerapkan apa yang selama ini saya dapatkan dari orang tua saya. Ketika SD dulu, tidak pernah sekali pun saya disuruh belajar atau mengerjakan PR. Namun dengan begitu saya justru merasa diberi tanggung jawab untuk memutuskan sendiri, mau belajar atau tidak, mengerjakan PR atau tidak. Hasilnya justru membentuk sendiri semangat belajar saya, yang saya bawa sampai lulus pendidikan tertinggi saya. Bahkan ketika SMA kelas 3, ranking saya di kelas pernah jeblok. Padahal nilai saya tidak buruk, hanya mungkin teman-teman saya banyak yang nilainya lebih baik. Apa yang dikatakan orang tua saya? "Ooh, itu berarti kamu terlalu keras belajarnya. Coba lebih santai dan jangan terlalu tegang. Walaupun kamu sudah mau ujian, bukan berarti kamu harus terus-terusan belajar kan?". Akhirnya saya turuti nasihat orang tua saya, hehe.. Nasihat yang aneh, tapi benar juga untuk situasi saya pada saat itu.

Namun mengingat beban dan situasi yang sudah berbeda dari jaman saya dulu dengan jaman anak saya sekarang, tentunya kita sebagai orang tua harus lebih bijak dalam membimbing anak belajar. Tentunya tidak bisa saya sepenuhnya melepas anak saya, mengharapkan dia mau belajar sendiri dan membentuk semangatnya sendiri. Tetapi, saya tidak mau memaksa bahwa anak saya harus jadi yang paling pintar di antara teman-temannya. Apalagi yang hanya diukur dari nilai ulangan. Ada orangtua yang menginginkan anaknya mendapat nilai terbaik di sekolah, sampai-sampai merasa kecewa dan memarahi anaknya ketika mendapat nilai jelek. Itu hal yang ingin saya buang jauh-jauh.  

belum sampai bu, aku masih kecil..
Perjalananmu di dunia pendidikan masih panjang nak.Ibu tidak mau memaksamu untuk jadi anak yang pintar dan mendapat nilai sempurna untuk semua mata pelajaran. Bukan itu tujuan Ibu menyekolahkanmu. Belajarlah dengan gembira. 


Monday, August 6, 2012

Refleksi 67 Tahun Indonesia Merdeka : Mengatasi Pendidikan Mahal










Image: FreeDigitalPhotos.net

Tidak terasa, tanggal 17 Agustus tahun ini, sudah 67 tahun Indonesia merdeka. Tetapi apakah kita benar-benar sudah merdeka, tetap menjadi pertanyaan retoris.
Bagaimana tidak? Merdeka kok apa-apa tidak terbeli. Mulai dari bahan pangan yang harganya semakin mahal dari hari ke hari, sampai pendidikan yang merupakan kewajiban orangtua untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas di masa depan. Ya, hal itulah yang seringkali jadi beban untuk para orangtua jaman sekarang. Sekolah mahal. Apalagi pendidikan tinggi.

Jika dirunut lebih lanjut, tugas kita sebagai orangtua adalah untuk mendidik anak kita agar mereka nantinya bisa mandiri, dan menjadi orangtua yang baik kemudian kembali mendidik anaknya kelak. Jika sekarang saja pendidikan sudah mahal, apalagi nanti untuk cucu cicit kita. Sementara di sisi lain, banyak kita lihat sekarang sarjana yang kesulitan untuk mencari pekerjaan. Lalu untuk apa ya sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya hanya akan menambah jumlah pengangguran?

Saya jadi teringat dengan obrolan dengan seorang teman pada waktu kuliah dulu. Pada saat itu di kampus sedang ada program Student Exchange, dan teman saya itu berasal dari Norwegia. Dia menceritakan tentang sistem pembiayaan pendidikan di negaranya, yaitu bahwa pemerintahnya menyediakan semacam pinjaman lunak untuk yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Pinjaman tersebut dikembalikan secara bertahap setelah yang bersangkutan sudah bekerja. Hal itu dilakukan, karena disana biaya kuliah sangatlah mahal, dan tidak semua mampu. Sedari awal biasanya anak sudah memiliki gambaran tentang cita-cita mereka, sehingga kalau kemampuannya (finansial) terbatas dan dia sudah memiliki minat tertentu, maka dia akan memilih sekolah kejuruan agar nantinya dia bisa membuka usaha atau bekerja di bidang yang sesuai minatnya tersebut. Mungkin konsep ini sudah diterapkan di banyak negara, hanya kebetulan saja saya mendengar sendiri dari teman saya tentang negaranya.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Yah, kalau kita hanya mengeluh saja, masalah tidak akan selesai. Harus ada tindakan nyata yang bisa menjadi solusi bagi permasalahan mahalnya biaya pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Saat ini yang sudah banyak dilakukan adalah pemberian beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi tetapi kurang mampu. Banyak pihak, mulai dari pemerintah sampai swasta, yang sudah memiliki program ini. Program yang menyertai beasiswa pun semakin lama semakin berkembang, mulai dari beasiswa plus kegiatan pengembangan diri, beasiswa plus jaminan diterima kerja di perusahaan tersebut, beasiswa plus aktivitas sosial di masyarakat, dan sebagainya.

Di tengah program-program tersebut, saya menemukan sebuah konsep menarik pemberian beasiswa, yang dilakukan oleh Koperasi Siswa Bangsa. Hampir sama dengan cerita teman saya dari Norwegia, mereka menerapkan sistem Dana Siswa Bangsa, seperti yang saya kutip dari website mereka:

Merupakan solusi pembiayaan pendidikan bagi siswa-siswi dengan nilai akademis dan karakter berkualitas yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi tanpa membebani keluarga. Dikelola oleh Koperasi Siswa Bangsa atas inisiatif dari Putera Sampoerna Foundation yang telah berpengalaman dan terpercaya dalam dunia pendidikan, Dana Siswa Bangsa membantu siswa mendapatkan akses pendidikan berkualitas di Indonesia maupun di luar negeri. Proses pengembalian pinjaman dilakukan setelah siswa lulus kuliah dan telah mendapatkan pekerjaan. Lamanya pembayaran berbeda untuk setiap individual karena tergantung daripada besarnya jumlah pinjaman.

Dana Siswa Bangsa juga menyediakan pinjaman untuk tunjangan hidup selama masa kuliah serta memberikan fasilitas bimbingan dan pengembangan karir agar bisa menjadi calon pemimpin bangsa yang pragmatis dan berkarakter.

Menarik bukan? Sungguh, tadinya saya tidak membayangkan kalau program seperti ini bisa diterapkan di Indonesia, karena harus ada pihak yang benar-benar memiliki inisiatif dan tekad kuat untuk bisa mewujudkannya. Mudah-mudahan program ini segera diikuti oleh pihak-pihak lain agar semakin banyak lagi anak yang bisa menyelesaikan pendidikan tinggi dengan dibekali pengetahuan yang cukup untuk bisa meraih masa depan yang lebih baik untuk Indonesia.

Amin...

Sumber: siswabangsa.org

Wednesday, July 25, 2012

Mengajak Anak Puasa



Alhamdulillah, tahun ini dipertemukan kembali dengan Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah bagi seluruh umat Muslim. Pada bulan ini pastinya umat Muslim berlomba-lomba memperbanyak ibadah agar mendapat manfaat sebesar-besarnya dari keberkahan yang sudah dijanjikan oleh ALlah SWT.

Bagi yang sudah dewasa dan berakal, pasti bisa mengukur kemampuannya sendiri. Tetapi bagaimana dengan anak-anak, kapan sebaiknya mereka diajari untuk berpuasa dan bagaimana caranya? Ada beberapa tips yang bisa dilaksanakan (dan sudah saya praktekkan juga :) )

1. Memberikan contoh kepada anak

Inilah yang paling penting. Anak adalah cerminan dari orang tua. Jadi, kalau kita ingin anak kita berbuat baik, maka kita harus membiasakan diri kita berbuat baik dulu. Demikian juga dengan puasa, kalau orangtuanya saja ogah-ogahan dalam menjalankan, jangan harap anak akan mau puasa dengan ikhlas. So, berpuasalah dengan sebaik-baik puasa, tunjukkan bahwa puasa itu menyenangkan dan merupakan bagian dari kewajiban kita dalam menjalankan agama dengan baik.

2. Memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami

Anak yang mulai kritis pasti akan bertanya, mengapa kita harus puasa? Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Memang baik menjelaskan dalil-dalil agama sebagai dasar perintah puasa, tapi sampaikanlah dengan bahasa mereka, pastikan bahwa mereka benar-benar memahami apa yang kita berikan. Yah, itulah tantangan orang tua jaman sekarang, hehe.. tapi yang jelas pastikan bahwa sesederhana apapun informasi yang anda sampaikan, jangan sedikitpun berbohong.

3. Memastikan usia anak sudah siap

Kapan sebaiknya mengajak anak puasa? Menurut pengalaman, anak-anak usia SD (6-7 tahun) sudah mulai bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak secara normatif. Itulah usia ideal untuk mulai mengajak anak melaksanakan puasa. Usia dibawah itu tergantung kematangan psikis anak, karena tiap anak berbeda, dan orang tua masing-masing lebih tahu. Namun lebih dari usia itu rasanya terlambat, karena anak akan segera memasuki pra remaja. Seperti kita tahu, kewajiban puasa mulai berlaku untuk mereka yang sudah akil balig (sekitar 12 tahun). Ketika mulai belajar, tentunya tidak mungkin memaksakan anak puasa penuh, pasti harus bertahap sampai mereka benar-benar bisa. Untuk itu perlu beberapa tahun (atau beberapa kali Ramadhan) sampai mereka siap.

4. Mengikuti kegiatan-kegiatan bermanfaat

Di bulan Ramadhan, pasti akan marak kegiatan-kegiatan yang bisa diikuti, mulai dari TPA, pesantren, dan sebagainya. Libatkan anak dengan suasana tersebut, tetapi jaga jangan sampai mereka terpaksa. Pilih tempat yang menyenangkan dan sesuai keinginan mereka. Misalnya, mereka lebih suka TPA di tempat yang lebih jauh karena teman-temannya juga ada di sana. Ikuti saja, walaupun resikonya kita harus menyediakan waktu lebih untuk antar jemput. Singkat kata, jadikan semua itu dari keinginan mereka sendiri sehingga mereka ikhlas menjalaninya.

5. Mengatasi anak rewel karena puasa

Bisa dipastikan, pada awal belajar puasa anak pasti rewel. Ketika bangun sahur sulit, kemudian ketika puasa masih jam 10 sudah lapar atau haus, misalnya. Itu hal yang biasa, tetapi jangan langsung membiarkan mereka berbuka. Alihkan perhatian kepada hal-hal yang bisa membuat mereka terlibat, misalnya membuat handycraft, permainan, membaca buku cerita, dan sebagainya. Ketika sahur, sejak hari sebelumnya tanyakan kepada mereka, makanan apa yang mereka mau untuk sahur, dan bagaimana cara membangunkan sahur yang mereka inginkan. Laksanakan apa yang mereka inginkan ketika membangunkan untuk sahur.

6. Jangan menjanjikan hadiah

Ada orangtua yang menjanjikan anak hadiah karena mau puasa, ada yang berupa uang atau barang. Sebaiknya dihindarkan, sebisa mungkin tanamkan sejak dini bahwa yang akan memberi mereka hadiah adalah Allah SWT atas puasa yang mereka jalankan. Hal ini penting, karena apa yang kita ajarkan sejak dini itulah yang akan tertanam di benak mereka hingga dewasa. Berikan saja pujian yang tulus.

Itu beberapa tips yang bisa diterapkan, semoga bermanfaat..

Tuesday, June 24, 2008

Solar Energy


Solar energy is energy from the Sun in the form of radiated heat and light. It drives the climateweather and supports life on Earth. Solar energy technologies make controlled use of this energy resource. Solar power is a synonym of solar energy or refers specifically to the conversion of sunlight into electricity by photovoltaics, concentrating solar thermal devices or various experimental technologies.
Source: Wikipedia

Beberapa minggu terakhir ini media heboh oleh berita 'penipuan' seseorang yang mengaku bisa menciptakan energi dari air. Belakangan, malah menyangkut nama sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta, yang tadinya sudah akan mendukung pembangkit listrik tenaga 'jin' tersebut.
Terlepas dari berbagai pro kontra energi alternatif, memang sudah sewajarnya kita mulai memikirkan sumber-sumber energi alternatif untuk menggantikan BBM yang sudah semakin menipis itu. Selain itu, kita juga sudah merasakan akibat-akibat global warming, yang salah satunya disebabkan emisi gas rumah kaca dari pembakaran BBM.
Hm.. jadi kepikiran nih... bisa nggak ya kita memanfaatkan sumber energi lain yang aman dari pengaruh buruk terhadap lingkungan?
Beberapa waktu yang lalu, aku lihat di salah satu TV, ada acara documentary yang membahas tentang ide-ide untuk menggunakan energi alternatif di skala rumah tangga. Di situ dibahas tentang sebuah rumah yang pake solar panel untuk sumber energi, sehingga diklaim "bebas tagihan listrik". Terus ada juga semacam flat yang pake energi panas bumi, dengan pipa-pipa yang menyalurkan panas itu ke unit-unit rumah di dalamnya.

Gila kali ya...

Tapi aku jadi mikir lagi.. kalo nggak ada orang-orang 'gila' seperti itu, kita nggak akan bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi masalah krisis energi ini. Ide-ide kaya Pak Sarli yang bikin kompor tenaga surya perlu dikembangkan lebih lanjut, kalo kita mau berusaha, pasti bisa kan...

Kalo boleh berkhayal nih... di Jogja kan sekarang udah ada TransJogja. Sayangnya masih di wilayah kota aja. Mungkin bisa nih, seandainya di deket halte disediain tempat parkir sepeda, nah dari rumah berangkat naik sepeda ke halte. Terus naik bus sampe ke kantor/kampus/sekolah. Kan udah lumayan hemat energi. Biarin deh, yang di jalan raya isinya kendaraan umum aja.. biar ga penuh n BBM-nya diirit. Syukur2 bisa dikembangin kendaraan umum yang pake solar energy (tambah berkhayal lagiiiiii....)
Ide lain, mungkin sepeda listrik (aku pernah lihat di pameran) bisa dimasyarakatkan... terus, chargingnya jangan pake listrik PLN, sama juga boong kan, pake energi BBM juga... Ntar perlu dibuat semacam "pom bensin" khusus untuk charging, pake tenaga surya... Jadi punya spare batere gitu, yang satu dipake, yang satu dicharge di 'charging center' khusus sepeda elektrik.. lucu juga kalo bisa gitu, hehe...
Terus, bikin perumahan yang pake local solar panels untuk menghasilkan energi.
Mahal sih.. tapi berinvestasi untuk kepentingan masa depan bumi kita, anak cucu kita? Monggo-monggo, yang punya banyak duit... :)

Hayo, apa lagi yang bisa dilakuin? hehehe....

idenama@24 june 08
*lagi hobi sama energi matahari*


Monday, April 7, 2008

Spongebob Squarepants

Who lives in a pineapple under the sea?
Absorbent and yellow and porous is he
If nautical nonsense is all that you wish
So drop on the deck and flop like a fish
Spongebob Squarepants OST, listen here
Familiar kan dengan tokoh kartun itu? Rasanya bukan hanya anak-anak saja yang menggemari, orang dewasa pun banyak yang suka. Habis gimana ya, kok bisa gitu spon dibikin tokoh kartun. Memang sih, spon termasuk jenis binatang juga.

Jenis spon yang ada di gambar di atas itu mungkin ya, yang jadi inspirasi buat mas Stephen Hillenburg yang background pendidikannya biologi kelautan itu buat bikin tokoh Spongebob yang kita kenal sekarang ini? Bayangin aja gambar itu dikasih mata bulet biru dengan bulu mata lentik sama celana kotak, hehe...

Bagaimana dengan bentuk asli tokoh-tokoh lainnya ya...


Bandingin aja sama gambar-gambar berikut ini:
Mr. Krabs
Squidward
Patrick
Gary


Hal lain yang menarik di Spongebob adalah analogi. Beberapa diantaranya:
1. Ubur-ubur = lebah madu, mungkin karena sama-sama menyengat ya..
2. Kerang kecil = unggas (burung dan ayam)
3. Kapal = mobil
4. Siput = kucing
5. Cacing = anjing
6. Kerang besar = binatang buas

Ohya, satu lagi yang aku suka... lagu ending yang mengiringi credit title, dengan musik Hawaiian Guitar itu tu.. Ada yang punya mp3nya ga ya?????

idenama@7 april 08