socmed

Tuesday, February 26, 2008

Sekaten

Tahun ini, seperti juga tahun-tahun sebelumnya, di alun-alun utara Jogja baru digelar acara Sekaten. Dulu pas aku masih kecil, pagelaran ini selalu ditunggu sebagai sarana hiburan rakyat yang murah dan menyenangkan. Ya, dulu belum ada mall dan taman hiburan sih…

Mengenai sekaten dan asal usulnya bisa dilihat disini.

Waktu aku kecil sih sekaten identik dengan

  • arum manis

  • bolang baling

  • pentas lumba-lumba

  • kapal otok-otok yang bahan bakarnya minyak kelapa

  • tong setan

  • dremolen

  • dangdutan (dulu loooh, ga tau sekarang, hehe)

Tapi sekarang, aku lagi ingin ngobrolin sekaten itu sebagai brand. Dia punya nilai sejarah yang kuat, punya waktu pelaksanaan yang jelas, lokasinya pasti, dan dikenal banyak orang. Sebenarnya sekaten itu sangat potensial lho kalau digarap dengan baik, sebagai brand-nya Jogja.

Beberapa tahun yang lalu seperti yang kita tahu, udah ada upaya dari pemerintah daerah untuk mengangkat citra sekaten supaya “naik kelas” dengan mengemasnya dalam bentuk “expo”. Tapi kenyataannya, kurang berhasil juga…malah kata para penjual di dalamnya, pengunjung jadi semakin sepi.

Memang sih, mengaktualkan prinsip pemasaran textbook dalam dunia nyata agak sulit. Tapi kembali lagi ke hal yang paling mendasar dalam pemasaran, yang selalu terngiang di telinga (weits.. Ikke Nurjanah bangetss), “..it all begins with the consumer”.

Kira-kira nih… ada nggak ya upaya dari pihak berwenang mengenai sekaten itu, untuk mencari tahu, siapa sih pengunjung sekaten dan apa yang mereka inginkan? Misalnya aja nih, oooh ternyata.. para pengunjung sekaten itu pengen tema yang berbeda tiap tahun. Contoh, tema makanan khas jogja. Jadi sekaten itu dikemas sedemikian rupa sehingga tema makanan mendominasi arena, paling gampang untuk ngasih nama cluster-cluster atau lorong-lorong stand, walaupun isinya ga melulu makanan sih… Atau ternyata, pengunjung sekaten itu ingin sekaten dicreate menjadi Jogja mini lengkap dengan nama-nama jalan untuk menamai lorong-lorong stand (kalo yang ini sih udah pernah ada yang make idenya untuk pameran di JEC), atau apalah… Banyak yang bisa digali sebenarnya…

Jadi menurutku, manajemen pelaksanaan sekaten itu perlu digarap dengan serius. Sebuah contoh yang membuatku sangat terkesan adalah acara tahunan Tournament of Roses di Amrik sono, pada tahu kaaan.. Dulu TVRI rajin banget nayangin acara ini, apalagi waktu itu Indonesia pernah jadi peserta. Acara itu dilaksanakan sekali setahun, tempatnya selalu di Pasadena, acaranya karnaval kendaraan yang dihias bunga…gitu-gitu aja sih. Tapi liat dong pengunjungnya, banyak yang bela-belain dari luar kota bahkan luar negeri hanya untuk nonton. Dan apakah mereka dijamu dengan nyaman? Nggak juga, mereka cuma berdiri aja tuh dipinggir jalan panas-panasan… Tapi mereka tetep antusias tuh…

Memang, manajemen yang baik sangat menentukan hasil, termasuk di acara karnaval ini. Bayangkan aja, ketika karnaval tahun ini lagi berlangsung, para peserta udah mulai merancang kendaraan hiasnya untuk tahun depan, sesuai dengan tema tahun depan yang juga sudah diberikan oleh panitia.

Kalau sekaten digarap dengan tingkat keseriusan seperti itu, bisa nggak ya? Mulai dari yang sederhana dulu, identifikasi pengunjung sekaten dan pengunjung potensial. Terus bisa dilanjutin dengan jajak pendapat, mengenai keinginan mereka tentang sekaten. Terus studi banding dengan perayaan sejenis di tempat lain atau di negara lain. Ga harus kesana langsung, kan sekarang ada internet, jadi pengeluaran untuk biaya perjalanan dinas bisa ditekan ;p Sekalian aja ditunjang dengan internet (website/email) untuk kepentingan promosi keluar kota dan keluar negeri. Bisa juga sekalian untuk cari sponsor/pengisi stand dengan syarat memang sekatennya udah dibikin bagus dan layak dipromosiin. Perayaan untuk rakyat bukan berarti semua-semuanya harus digarap dengan konvensional lho… Apalagi di lokasi itu ada Keraton Yogyakarta yang merupakan warisan budaya yang penting dan sering dikunjungi wisatawan luar negeri.

Penting ga sih? ;p

idenama@26 feb 08

No comments: