socmed

Monday, March 16, 2015

Menang Undian? Jangan Langsung Percaya!

 Pagi ini, dapat SMS begini:

sms tipu

Hiyaa.. ada lagi nih. Aku udah tahu sih kalau ini pasti modus. Kali ini aku cuma pengen share aja, hal-hal yang menyebabkanku semakin yakin bahwa ini adalah penipuan.
Too Good To Be True.
Helooo.. rejeki nomplok 15 juta? Bonusku Oriflame aja belum ada sepertiganya.. itu pun harus kerja keras memperjuangkan. Lha ini? Uang gampang.. No, tidak mungkin.

Yuk kita mulai ngecek dari informasi yang tercantum di SMS ya..

Si pengirim SMS mencantumkan contact yang “nampak jelas” disitu, berupa alamat website dan nomer telpon. Untuk kehati-hatian, aku memilih cek website. Dan apa hasilnya? Bisa dilihat pada gambar ini.

fiestapoin 

Wow. Nampak meyakinkan sekilas ya. Ada gambar uangnya, ada foto orang nerima hadiah, ada tombol-tombol link ke fasilitas-fasilitas yang umumnya ada di sebuah corporate website. Alamatnya pun profesional, pake dotcom. Bukan pake embel-embel website gratisan.. Ada list kode pin pemenang, yang kode di SMS ku ada juga di sana. Tapi tunggu.. aku familiar dengan template website ini.
blospot 

Yak benar. Ini template standar di blog gratisan. Aku coba buka blogku yang satu, dan template ini ada di salah satu pilihan. Tampilan di atas, waktu aku coba preview tampilan blog ku kalau diganti dengan template tersebut.

Kesimpulannya: walaupun web (blog sebenarnyaaa) ini bernama dotcom, sebenarnya dia dibuat di platform blog gratisan. Si pembuatnya modal dikit lah, dengan menghilangkan embel-embel nama gratisannya, ya paling cuma beberapa ratus ribu. Bandingkan dengan pendapatan dia dari orang yang setor “pajak hadiah”. Hmmm.. Tidak seberapa. Ya namanya usaha kan butuh modal iya kaaaan..

Selain itu, untuk lebih meyakinkan, coba cari link di web ini yang menuju web utama http://www.indosat.com, atau sebaliknya dari sana ke web ini. Zonk!

Masih belum puas? Cek nomer telepon yang ada di SMS. Bandingkan dengan no telpon yang aku ambil dari website resmi Indosat.

f 

Nah. Sudah cukup kayaknya ya.. Mudah-mudahan teman-teman juga lebih berhati-hati setiap menerima informasi serupa. Oh iya, pihak Indosat juga sudah memberikan warning dengan link berikut ini:
http://indosat.com/id/personal/support/contact-us/waspada-situs-penipuan-mengatasnamakan-indosat

Tulisan ini aku buat karena aku mengalami sendiri. Kemungkinan hal ini bisa terjadi pada pengguna provider lain juga. Semoga bermanfaat ya..

Artikel Asli

Sunday, April 21, 2013

Berapa Usia Pake Make Up Kita?


Beberapa hari yang lalu, dapet pertanyaan dari seorang teman tentang usia pakai lipstik. Jadi kepikiran, iya ya, selama ini kita jarang banget memperhatikan, usia pakai dari make up yang kita punya. Main pakai aja, kalau habis ya beli lagi, kalau belum habis gak peduli umurnya udah berapa lama ya dipake terus.. Jadi aku browsing, dan nemu, ternyata kalau:

  1. Concealer : bisa dipake sampai 1 tahun
  2. Bedak: bisa sampai 2 tahun
  3. Pembersih dalam bentuk krim dan gel: 1 tahun
  4. Eye liner pensil: sampai 3 tahun, harus selalu diraut tajam
  5. Eyeshadow: bisa sampai 3 tahun. Tips tambahan: eyeshadow gelap bisa sekaligus berfungsi sebagai eyeliner lho.. pakainya dengan kuas kecil.
  6. Kuas: cuci setiap 2-3 bulan sekali dengan detergen lembut
  7. Spon: cuci seminggu sekali, dan diganti setiap bulan (apaaaa? Tiap bulan??? Hehe)
  8. Foundation: cek bahannya.. kalau foundie berbahan dasar air bisa 1 tahun, berbahan dasar minyak bisa 1,5 tahun. Tips tambahan: kalau foundie berbahan air mengering, bisa ditetesi beberapa tetes toner non alkohol, tapi kalau yg minyak jangan ya..
  9. Lip liner: 3 tahun
  10. Lipstick: 1-2 tahun, ada yang bilang sampai 4 tahun. Tapi kalau lipstik sudah berbau tengik, lebih baik jangan dipakai lagi. Tips tambahan: kalau disimpan di kulkas bisa lebih awet.
  11. Maskara: 4 bulan saja.. Tips tambahan: kalau ingin maskara lebih awet, jangan terlalu sering memainkan batang maskara keluar masuk wadah (seperti gerakan memompa) karena ini hanya akan memasukkan lebih banyak udara ke dalam, yang mengurangi keawetannya..
  12. Cat kuku: 1 tahun, kalau belum kering duluan, hehe..


Nah segitu dulu.. mudah-mudahan bermanfaat yaaaa.. 

Sumber: http://beauty.about.com/od/makeuptrickstips/a/shelflife.htm


Wednesday, October 31, 2012

Tantangan Orang Tua: Apakah Anak Harus Pintar di Sekolah?

Sudah lama saya ingin sekali menulis tentang ini. Tulisan ini diilhami dari pengalaman yang ada di sekitar, baik pengalaman sendiri maupun orang lain, yang saya lihat sendiri ataupun saya baca di tulisan-tulisan.

Keinginan itu semakin kuat ketika beberapa hari yang lalu di salah satu acara talkshow di televisi, host-nya mengatakan sesuatu yang saya harus setuju. Katanya kurang lebih begini "Apakah anak kita harus pintar di sekolah seperti gurunya yang mengajarkan? Untuk pelajaran matematika memang guru matematika menguasai. Tapi coba guru matematika kita suruh mengajar bahasa, belum tentu bisa bukan? Begitu juga dengan anak kita. Guru saja hanya menguasai pelajaran tertentu yang menjadi bidang ilmunya. Lalu bagaimana bisa kita mengharapkan anak kita pintar dan menguasai semua pelajaran yang didapatkannya di sekolah?"  *iya ya, betul juga..

Itu belum semua. Masih ada lagi, "Kalau anak kita kurang bisa pelajaran matematika tapi sangat suka dan bagus dalam bidang seni rupa. Biasanya kita cenderung me-les-kan anak kita matematika, tapi yang nilainya sudah bagus ditinggalkan." *yang ini juga sering terjadi..

Image courtesy of David Castillo Dominici at FreeDigitalPhotos.net
"Aduh naaak, belajar dong! Gimana sih, masak soal kayak gini gampangnya kamu nggak bisa ngerjainnya?"

Terus terang saya sudah sangat bersyukur ketika akhirnya anak pertama saya diterima di sekolahnya yang sekarang. Pada waktu wawancara dengan orang tua, gurunya sudah mengatakan bahwa sekolah tersebut beban pelajarannya cukup berat, dan meminta kerjasama orang tua dalam membimbing anaknya belajar agar anak tetap bersemangat bersekolah. Oke, dalam hati saya sanggupi, satu yang saya inginkan adalah anak saya mendapatkan pendidikan yang baik di sekolah ini, dan dia tetap bersemangat. 

Tantangan pertama: anak saya termasuk introvert dan susah berteman. Dulu saja waktu di playgroup harus sampai beberapa bulan ditunggui di sekolah tiap hari. Untung saja kemudian ada anak tetangga yang ikut sekolah di sana, kebetulan anaknya pemberani, sehingga tidak mau ditunggui. Alhamdulillah, anak saya akhirnya mau ditinggal. Aduh, bagaimana ya nanti di SD? Saya sudah membayangkan bahwa anak saya akan kesulitan menyesuaikan diri. Berdoa.. Terus berdoa, semoga Allah SWT memudahkan langkah anak saya. Nah di SD-nya ini, kebetulan sahabatnya waktu TK juga diterima di sekolah yang sama, dan di kelas yang sama juga. Sebuah keuntungan besar bagi saya, tidak perlu menungguinya di hari-hari pertama, walaupun sekolah memberikan kesempatan selama 1 minggu pertama. Dan saat ini dia juga sudah mau berteman dengan anak-anak lain yang sekelas, bahkan juga yang beda kelas. Satu tantangan terlewati..

Tantangan kedua: menjaga semangat anak dalam mengerjakan tugas PR dan belajar. Tidak semua sekolah mengadakan PR, saya tahu. Ada sekolah yang mengunggulkan sistem bahwa anak hanya belajar di sekolah saja, di rumah mereka bebas bermain. Ya, tapi sekolah anak saya tidak. Daripada berdebat tentang sistem ini dan itu, saya berusaha menjalani saja apa yang ada di depan mata. Anak saya belum genap 7 tahun, dia masih suka sekali bermain, apalagi sejak dia bisa naik sepeda. Tiap siang sampai sore selalu dihabiskannya dengan main sepeda. Tugas saya sebagai orang tua tentunya mengingatkan dia akan tanggung jawabnya belajar dan mengerjakan PR. Itu pun saya harus sangat berhati-hati karena takut dia merasa terpaksa dalam mengerjakannya. Yang saya lakukan adalah biasanya bertanya, "Mbak, ada PR nggak? Sudah dikerjakan belum?" Dan saya sengaja tidak menungguinya kalau tidak diminta, karena saya kuatir dia akan merasa terintimidasi. Paling kalau sudah selesai dia akan menunjukkan hasilnya, dan saya cek kalau ada kesalahan. Untuk belajar, biasanya saya sempatkan cek buku-buku pelajaran sekolahnya, dan ikut mempelajari materinya (sambil lalu tentunya, hehe). Dalam kesempatan tertentu, materi-materi tersebut saya angkat dengan pertanyaan sederhana. Kecuali ketika akan UTS kemarin, memang secara khusus saya mengajak anak saya mengingat-ingat pelajaran yang sudah diberikan. Sesantai mungkin, sesederhana mungkin..

Itu baru dua, masih banyak lagi tantangan lain.. Dan tekad saya, jangan sampai anak saya yang harus merasakan bebannya..

Saya hanya menerapkan apa yang selama ini saya dapatkan dari orang tua saya. Ketika SD dulu, tidak pernah sekali pun saya disuruh belajar atau mengerjakan PR. Namun dengan begitu saya justru merasa diberi tanggung jawab untuk memutuskan sendiri, mau belajar atau tidak, mengerjakan PR atau tidak. Hasilnya justru membentuk sendiri semangat belajar saya, yang saya bawa sampai lulus pendidikan tertinggi saya. Bahkan ketika SMA kelas 3, ranking saya di kelas pernah jeblok. Padahal nilai saya tidak buruk, hanya mungkin teman-teman saya banyak yang nilainya lebih baik. Apa yang dikatakan orang tua saya? "Ooh, itu berarti kamu terlalu keras belajarnya. Coba lebih santai dan jangan terlalu tegang. Walaupun kamu sudah mau ujian, bukan berarti kamu harus terus-terusan belajar kan?". Akhirnya saya turuti nasihat orang tua saya, hehe.. Nasihat yang aneh, tapi benar juga untuk situasi saya pada saat itu.

Namun mengingat beban dan situasi yang sudah berbeda dari jaman saya dulu dengan jaman anak saya sekarang, tentunya kita sebagai orang tua harus lebih bijak dalam membimbing anak belajar. Tentunya tidak bisa saya sepenuhnya melepas anak saya, mengharapkan dia mau belajar sendiri dan membentuk semangatnya sendiri. Tetapi, saya tidak mau memaksa bahwa anak saya harus jadi yang paling pintar di antara teman-temannya. Apalagi yang hanya diukur dari nilai ulangan. Ada orangtua yang menginginkan anaknya mendapat nilai terbaik di sekolah, sampai-sampai merasa kecewa dan memarahi anaknya ketika mendapat nilai jelek. Itu hal yang ingin saya buang jauh-jauh.  

belum sampai bu, aku masih kecil..
Perjalananmu di dunia pendidikan masih panjang nak.Ibu tidak mau memaksamu untuk jadi anak yang pintar dan mendapat nilai sempurna untuk semua mata pelajaran. Bukan itu tujuan Ibu menyekolahkanmu. Belajarlah dengan gembira. 


Monday, August 6, 2012

Refleksi 67 Tahun Indonesia Merdeka : Mengatasi Pendidikan Mahal










Image: FreeDigitalPhotos.net

Tidak terasa, tanggal 17 Agustus tahun ini, sudah 67 tahun Indonesia merdeka. Tetapi apakah kita benar-benar sudah merdeka, tetap menjadi pertanyaan retoris.
Bagaimana tidak? Merdeka kok apa-apa tidak terbeli. Mulai dari bahan pangan yang harganya semakin mahal dari hari ke hari, sampai pendidikan yang merupakan kewajiban orangtua untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas di masa depan. Ya, hal itulah yang seringkali jadi beban untuk para orangtua jaman sekarang. Sekolah mahal. Apalagi pendidikan tinggi.

Jika dirunut lebih lanjut, tugas kita sebagai orangtua adalah untuk mendidik anak kita agar mereka nantinya bisa mandiri, dan menjadi orangtua yang baik kemudian kembali mendidik anaknya kelak. Jika sekarang saja pendidikan sudah mahal, apalagi nanti untuk cucu cicit kita. Sementara di sisi lain, banyak kita lihat sekarang sarjana yang kesulitan untuk mencari pekerjaan. Lalu untuk apa ya sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya hanya akan menambah jumlah pengangguran?

Saya jadi teringat dengan obrolan dengan seorang teman pada waktu kuliah dulu. Pada saat itu di kampus sedang ada program Student Exchange, dan teman saya itu berasal dari Norwegia. Dia menceritakan tentang sistem pembiayaan pendidikan di negaranya, yaitu bahwa pemerintahnya menyediakan semacam pinjaman lunak untuk yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Pinjaman tersebut dikembalikan secara bertahap setelah yang bersangkutan sudah bekerja. Hal itu dilakukan, karena disana biaya kuliah sangatlah mahal, dan tidak semua mampu. Sedari awal biasanya anak sudah memiliki gambaran tentang cita-cita mereka, sehingga kalau kemampuannya (finansial) terbatas dan dia sudah memiliki minat tertentu, maka dia akan memilih sekolah kejuruan agar nantinya dia bisa membuka usaha atau bekerja di bidang yang sesuai minatnya tersebut. Mungkin konsep ini sudah diterapkan di banyak negara, hanya kebetulan saja saya mendengar sendiri dari teman saya tentang negaranya.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Yah, kalau kita hanya mengeluh saja, masalah tidak akan selesai. Harus ada tindakan nyata yang bisa menjadi solusi bagi permasalahan mahalnya biaya pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Saat ini yang sudah banyak dilakukan adalah pemberian beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi tetapi kurang mampu. Banyak pihak, mulai dari pemerintah sampai swasta, yang sudah memiliki program ini. Program yang menyertai beasiswa pun semakin lama semakin berkembang, mulai dari beasiswa plus kegiatan pengembangan diri, beasiswa plus jaminan diterima kerja di perusahaan tersebut, beasiswa plus aktivitas sosial di masyarakat, dan sebagainya.

Di tengah program-program tersebut, saya menemukan sebuah konsep menarik pemberian beasiswa, yang dilakukan oleh Koperasi Siswa Bangsa. Hampir sama dengan cerita teman saya dari Norwegia, mereka menerapkan sistem Dana Siswa Bangsa, seperti yang saya kutip dari website mereka:

Merupakan solusi pembiayaan pendidikan bagi siswa-siswi dengan nilai akademis dan karakter berkualitas yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi tanpa membebani keluarga. Dikelola oleh Koperasi Siswa Bangsa atas inisiatif dari Putera Sampoerna Foundation yang telah berpengalaman dan terpercaya dalam dunia pendidikan, Dana Siswa Bangsa membantu siswa mendapatkan akses pendidikan berkualitas di Indonesia maupun di luar negeri. Proses pengembalian pinjaman dilakukan setelah siswa lulus kuliah dan telah mendapatkan pekerjaan. Lamanya pembayaran berbeda untuk setiap individual karena tergantung daripada besarnya jumlah pinjaman.

Dana Siswa Bangsa juga menyediakan pinjaman untuk tunjangan hidup selama masa kuliah serta memberikan fasilitas bimbingan dan pengembangan karir agar bisa menjadi calon pemimpin bangsa yang pragmatis dan berkarakter.

Menarik bukan? Sungguh, tadinya saya tidak membayangkan kalau program seperti ini bisa diterapkan di Indonesia, karena harus ada pihak yang benar-benar memiliki inisiatif dan tekad kuat untuk bisa mewujudkannya. Mudah-mudahan program ini segera diikuti oleh pihak-pihak lain agar semakin banyak lagi anak yang bisa menyelesaikan pendidikan tinggi dengan dibekali pengetahuan yang cukup untuk bisa meraih masa depan yang lebih baik untuk Indonesia.

Amin...

Sumber: siswabangsa.org

Wednesday, July 25, 2012

Mengajak Anak Puasa



Alhamdulillah, tahun ini dipertemukan kembali dengan Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah bagi seluruh umat Muslim. Pada bulan ini pastinya umat Muslim berlomba-lomba memperbanyak ibadah agar mendapat manfaat sebesar-besarnya dari keberkahan yang sudah dijanjikan oleh ALlah SWT.

Bagi yang sudah dewasa dan berakal, pasti bisa mengukur kemampuannya sendiri. Tetapi bagaimana dengan anak-anak, kapan sebaiknya mereka diajari untuk berpuasa dan bagaimana caranya? Ada beberapa tips yang bisa dilaksanakan (dan sudah saya praktekkan juga :) )

1. Memberikan contoh kepada anak

Inilah yang paling penting. Anak adalah cerminan dari orang tua. Jadi, kalau kita ingin anak kita berbuat baik, maka kita harus membiasakan diri kita berbuat baik dulu. Demikian juga dengan puasa, kalau orangtuanya saja ogah-ogahan dalam menjalankan, jangan harap anak akan mau puasa dengan ikhlas. So, berpuasalah dengan sebaik-baik puasa, tunjukkan bahwa puasa itu menyenangkan dan merupakan bagian dari kewajiban kita dalam menjalankan agama dengan baik.

2. Memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami

Anak yang mulai kritis pasti akan bertanya, mengapa kita harus puasa? Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Memang baik menjelaskan dalil-dalil agama sebagai dasar perintah puasa, tapi sampaikanlah dengan bahasa mereka, pastikan bahwa mereka benar-benar memahami apa yang kita berikan. Yah, itulah tantangan orang tua jaman sekarang, hehe.. tapi yang jelas pastikan bahwa sesederhana apapun informasi yang anda sampaikan, jangan sedikitpun berbohong.

3. Memastikan usia anak sudah siap

Kapan sebaiknya mengajak anak puasa? Menurut pengalaman, anak-anak usia SD (6-7 tahun) sudah mulai bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak secara normatif. Itulah usia ideal untuk mulai mengajak anak melaksanakan puasa. Usia dibawah itu tergantung kematangan psikis anak, karena tiap anak berbeda, dan orang tua masing-masing lebih tahu. Namun lebih dari usia itu rasanya terlambat, karena anak akan segera memasuki pra remaja. Seperti kita tahu, kewajiban puasa mulai berlaku untuk mereka yang sudah akil balig (sekitar 12 tahun). Ketika mulai belajar, tentunya tidak mungkin memaksakan anak puasa penuh, pasti harus bertahap sampai mereka benar-benar bisa. Untuk itu perlu beberapa tahun (atau beberapa kali Ramadhan) sampai mereka siap.

4. Mengikuti kegiatan-kegiatan bermanfaat

Di bulan Ramadhan, pasti akan marak kegiatan-kegiatan yang bisa diikuti, mulai dari TPA, pesantren, dan sebagainya. Libatkan anak dengan suasana tersebut, tetapi jaga jangan sampai mereka terpaksa. Pilih tempat yang menyenangkan dan sesuai keinginan mereka. Misalnya, mereka lebih suka TPA di tempat yang lebih jauh karena teman-temannya juga ada di sana. Ikuti saja, walaupun resikonya kita harus menyediakan waktu lebih untuk antar jemput. Singkat kata, jadikan semua itu dari keinginan mereka sendiri sehingga mereka ikhlas menjalaninya.

5. Mengatasi anak rewel karena puasa

Bisa dipastikan, pada awal belajar puasa anak pasti rewel. Ketika bangun sahur sulit, kemudian ketika puasa masih jam 10 sudah lapar atau haus, misalnya. Itu hal yang biasa, tetapi jangan langsung membiarkan mereka berbuka. Alihkan perhatian kepada hal-hal yang bisa membuat mereka terlibat, misalnya membuat handycraft, permainan, membaca buku cerita, dan sebagainya. Ketika sahur, sejak hari sebelumnya tanyakan kepada mereka, makanan apa yang mereka mau untuk sahur, dan bagaimana cara membangunkan sahur yang mereka inginkan. Laksanakan apa yang mereka inginkan ketika membangunkan untuk sahur.

6. Jangan menjanjikan hadiah

Ada orangtua yang menjanjikan anak hadiah karena mau puasa, ada yang berupa uang atau barang. Sebaiknya dihindarkan, sebisa mungkin tanamkan sejak dini bahwa yang akan memberi mereka hadiah adalah Allah SWT atas puasa yang mereka jalankan. Hal ini penting, karena apa yang kita ajarkan sejak dini itulah yang akan tertanam di benak mereka hingga dewasa. Berikan saja pujian yang tulus.

Itu beberapa tips yang bisa diterapkan, semoga bermanfaat..

Tuesday, June 24, 2008

Solar Energy


Solar energy is energy from the Sun in the form of radiated heat and light. It drives the climateweather and supports life on Earth. Solar energy technologies make controlled use of this energy resource. Solar power is a synonym of solar energy or refers specifically to the conversion of sunlight into electricity by photovoltaics, concentrating solar thermal devices or various experimental technologies.
Source: Wikipedia

Beberapa minggu terakhir ini media heboh oleh berita 'penipuan' seseorang yang mengaku bisa menciptakan energi dari air. Belakangan, malah menyangkut nama sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta, yang tadinya sudah akan mendukung pembangkit listrik tenaga 'jin' tersebut.
Terlepas dari berbagai pro kontra energi alternatif, memang sudah sewajarnya kita mulai memikirkan sumber-sumber energi alternatif untuk menggantikan BBM yang sudah semakin menipis itu. Selain itu, kita juga sudah merasakan akibat-akibat global warming, yang salah satunya disebabkan emisi gas rumah kaca dari pembakaran BBM.
Hm.. jadi kepikiran nih... bisa nggak ya kita memanfaatkan sumber energi lain yang aman dari pengaruh buruk terhadap lingkungan?
Beberapa waktu yang lalu, aku lihat di salah satu TV, ada acara documentary yang membahas tentang ide-ide untuk menggunakan energi alternatif di skala rumah tangga. Di situ dibahas tentang sebuah rumah yang pake solar panel untuk sumber energi, sehingga diklaim "bebas tagihan listrik". Terus ada juga semacam flat yang pake energi panas bumi, dengan pipa-pipa yang menyalurkan panas itu ke unit-unit rumah di dalamnya.

Gila kali ya...

Tapi aku jadi mikir lagi.. kalo nggak ada orang-orang 'gila' seperti itu, kita nggak akan bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi masalah krisis energi ini. Ide-ide kaya Pak Sarli yang bikin kompor tenaga surya perlu dikembangkan lebih lanjut, kalo kita mau berusaha, pasti bisa kan...

Kalo boleh berkhayal nih... di Jogja kan sekarang udah ada TransJogja. Sayangnya masih di wilayah kota aja. Mungkin bisa nih, seandainya di deket halte disediain tempat parkir sepeda, nah dari rumah berangkat naik sepeda ke halte. Terus naik bus sampe ke kantor/kampus/sekolah. Kan udah lumayan hemat energi. Biarin deh, yang di jalan raya isinya kendaraan umum aja.. biar ga penuh n BBM-nya diirit. Syukur2 bisa dikembangin kendaraan umum yang pake solar energy (tambah berkhayal lagiiiiii....)
Ide lain, mungkin sepeda listrik (aku pernah lihat di pameran) bisa dimasyarakatkan... terus, chargingnya jangan pake listrik PLN, sama juga boong kan, pake energi BBM juga... Ntar perlu dibuat semacam "pom bensin" khusus untuk charging, pake tenaga surya... Jadi punya spare batere gitu, yang satu dipake, yang satu dicharge di 'charging center' khusus sepeda elektrik.. lucu juga kalo bisa gitu, hehe...
Terus, bikin perumahan yang pake local solar panels untuk menghasilkan energi.
Mahal sih.. tapi berinvestasi untuk kepentingan masa depan bumi kita, anak cucu kita? Monggo-monggo, yang punya banyak duit... :)

Hayo, apa lagi yang bisa dilakuin? hehehe....

idenama@24 june 08
*lagi hobi sama energi matahari*


Monday, April 7, 2008

Spongebob Squarepants

Who lives in a pineapple under the sea?
Absorbent and yellow and porous is he
If nautical nonsense is all that you wish
So drop on the deck and flop like a fish
Spongebob Squarepants OST, listen here
Familiar kan dengan tokoh kartun itu? Rasanya bukan hanya anak-anak saja yang menggemari, orang dewasa pun banyak yang suka. Habis gimana ya, kok bisa gitu spon dibikin tokoh kartun. Memang sih, spon termasuk jenis binatang juga.

Jenis spon yang ada di gambar di atas itu mungkin ya, yang jadi inspirasi buat mas Stephen Hillenburg yang background pendidikannya biologi kelautan itu buat bikin tokoh Spongebob yang kita kenal sekarang ini? Bayangin aja gambar itu dikasih mata bulet biru dengan bulu mata lentik sama celana kotak, hehe...

Bagaimana dengan bentuk asli tokoh-tokoh lainnya ya...


Bandingin aja sama gambar-gambar berikut ini:
Mr. Krabs
Squidward
Patrick
Gary


Hal lain yang menarik di Spongebob adalah analogi. Beberapa diantaranya:
1. Ubur-ubur = lebah madu, mungkin karena sama-sama menyengat ya..
2. Kerang kecil = unggas (burung dan ayam)
3. Kapal = mobil
4. Siput = kucing
5. Cacing = anjing
6. Kerang besar = binatang buas

Ohya, satu lagi yang aku suka... lagu ending yang mengiringi credit title, dengan musik Hawaiian Guitar itu tu.. Ada yang punya mp3nya ga ya?????

idenama@7 april 08

Wednesday, April 2, 2008

Gamelan

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
Wikipedia


Gamelan, seperti yang kita tahu, adalah seperangkat alat musik tradisional yang biasanya dimainkan di upacara-upacara adat, menandai perjalanan hidup manusia. Mulai dari upacara pernikahan sampai upacara berkabung, ada gendingnya masing-masing.

Tapi, pernah tidak mendengar gamelan misterius yang dimainkan di tengah malam? Katanya sih kalau pernah denger gamelan itu dimainkan, maka akan tinggal menetap di Kota Yogyakarta.

Hal ini memang sempat diperbincangkan di kalangan teman-teman kuliah dulu, khususnya yang berasal dari luar Jogja. Aku pribadi tidak tahu persis, gamelan yang seperti apa yang dimaksud, tapi sepertinya sih, aku pernah mendengarnya di suatu malam beberapa tahun yang lalu. Suaranya seperti berjalan mendekat, kemudian menjauh lagi... Ah, sayang sekali aku tidak hafal nama-nama gending, jadi tidak bisa mendeskripsikan bunyi gamelan yang aku dengar tersebut...

Yang jelas sih, sampai sekarang aku masih menetap di Jogja :)

idenama@3 April 08



Friday, March 28, 2008

Global Warming Effect

Global average surface temperature will increase by between 1.0 and 3.5 Celsius degrees (between 1.8 and 6.3 Fahrenheit degrees) by the year 2100 (see Global Warming). If such a warming should occur, sea level should rise by between 15 cm and 95 cm (6 in and 37 in) by the year 2100, with the most likely rise being 50 cm (20 in). Such a rise in sea level might have a damaging effect on coastal ecosystems. (Ahrens, C.D. 2006, “Meteorology” in Microsoft Encarta)


Salah satu bukti yang nyata dari pemanasan global adalah naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub.

Aku tidak tahu persis, fenomena yang aku temukan di Pantai Baron disebabkan global warming atau tidak. Yang jelas sih cukup buat merinding, melihat perubahan signifikan yang terjadi pada garis pantainya.

Selama ini aku hanya baca berita di koran, bahwa ada rumah penduduk yang tadinya ratusan meter dari bibir pantai, sekarang dapurnya hampir termakan air laut. Tambah merinding lagi, melihat tim SAR (gak pake bikini lho…) yang mondar mandir mencari seorang korban yang hanyut di pantai itu sehari sebelumnya dan belum ditemukan…

Foto dibawah ini menunjukkan kondisi pantai Baron pada tanggal 25 Desember 2004.











Foto dibawah ini menunjukkan kondisi pantai Baron pada tanggal 21 Maret 2008.









Bandingkan.

Tahun 2004 pantai ini masih landai, terlihat dari warna air yang memperlihatkan permukaan pasir di bawahnya, dibalik selimut ombak nan melambai manja, sehingga para insan tergoda tergoda untuk mendekat (udah puitis belum? ;p).

Tahun 2008, rasanya seperti berdiri di pinggir kolam raksasa, berair hijau yang dalam. Motorboat tim SAR pun bisa melenggang santai di posisi yang sangat dekat dengan bibir pantai. Niat dari rumah untuk main air pun langsung hilang, lenyap, tamat sudah. Aku dan rombongan hanya menghabiskan waktu beberapa menit di pinggir pantai itu tanpa menyentuh air. Foto-foto di deretan kapal nelayan, langsung cabut.

Emm.. kalau memang ini salah satu global warming effect, cukup signifikan nggak ya kalau kita menanam pohon banyak-banyak untuk mencegah hilangnya pantai-pantai di masa mendatang?

idenama@28 March 08

Thursday, March 27, 2008

Sinetron

Sinetron adalah akronim dari "Sinema Elektronik". Sinetron sebenarnya adalah sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televisi. Dalam bahasa Inggris, sinetron disebut soap-serie, sedangkan dalam bahasa Spanyol disebut telenovela. Sinetron pada umumnya bercerita tentang kehidupan manusia sehari-hari yang diwarnai dengan konflik. Seperti layaknya drama atau sandiwara, sinetron diawali dengan perkenalan tokoh-tokoh yang memiliki karakter khas masing-masing. Berbagai karakter yang berbeda menimbulkan konflik yang makin lama makin besar sehingga sampai pada titik klimaksnya. Akhir dari suatu sinetron dapat bahagia maupun sedih tergantung dari jalan cerita yang ditentukan oleh sutradara dan penulis cerita.
Wikipedia

Jam 18.00 - 21.00 di beberapa stasiun TV Indonesia adalah prime time. Yaitu: saat tarif iklan per spotnya bisa dibuat mahal abisss, hehe... Dan kesamaan di beberapa stasiun TV itu: yup, sinetron.

Bisa dikatakan, jam-jam itulah remote TV kebanyakan berada di tangan para ibu dan pembantu. Para bapak, oho.. nanti malam jatahnya ya, kalo ada film lepas (barat) atau pertandingan sepakbola. Ya, setidaknya itulah yang terjadi di rumahku dan kebanyakan rumah lain yang aku tahu.

Sinetron adalah sebuah dilema. Di satu pihak, pemerintah berusaha menggalakkan cinta Indonesia, termasuk dalam kebijakan tayangan TV yang diupayakan sesedikit mungkin impor dari luar. Di pihak lain, masyarakat Indonesia (yang nonton TV) masih suka sama tayangan-tayangan mengumbar mimpi yang kebanyakan jadi tema sinetron. Yang diantaranya pasti ada unsur-unsur ini (menurut pengamatanku sih kebanyakan begitu...)

  1. Tokoh utamanya cewek, miskin, menderita lahir batin
  2. Tokoh antagonisnya suka tereak, n hobi melotot
  3. Happy ending, si miskin jadi kaya, si jahat masuk penjara atau mati
  4. Banyak tokoh yang perannya ga sesuai sama umurnya (C'mon.. Cindy Fatika udah punya anak segede Baim Wong???), tinggal didandanin aja supaya keliatan tua, misalnya rambut disanggul atau dikasih warna putih sedikit
  5. Banyak adegan ga penting, terutama sinetron kejar tayang yang udah banyak iklannya
  6. Penyakit-penyakit: amnesia, kanker stadium lanjut, lumpuh, serangan jantung, stroke
  7. Ada tokoh dokter, polisi, penjahat bercodet bawa pisau/pistol
  8. Kalo masih mau nambahin, monggo...hehe
Intinya sih, belum menganggap penonton kita cerdas, jadi harus ditunjukkan dengan terang-terangan. Ini lho yang jahat. Ini lho yang miskin. Ini lho yang sakit.
Tapi terlalu berat juga untuk memasukkan unsur pendidikan, karena kalo nggak jeli salah-salah malah sinetronnya ga laku n miskin iklan.

Jadi gimana dong...

Menurutku sih, dikembaliin aja ke masing-masing. Kalo nggak suka, ya nggak usah nonton. Aku jadi inget sebuah lelucon: "Televisi memang membuatku semakin pintar. Setiap kali ia dinyalakan, aku pasti akan pindah ke ruangan lain untuk membaca buku."

idenama@27 maret 08






Monday, March 24, 2008

We Will Rock You!!!

"We Will Rock You" is a song written by Brian May and recorded and performed by Queen. One version was used as the opening track on their 1977 album News of the World. This version consists of a stamping-clapping beat, and a power chorus, being somewhat of an anthem. The stamping effects were created by the band overdubbed the sounds of themselves stomping and clapping many times and adding delay effects to create a sound like many people were participating.
Wikipedia

We Will Rock You memang bukan lagu tahun 90 an. Disini aku cuma ngambil judul itu sesuai dengan deretan lagu berikut ini, yang kebanyakan emang lagu favoritku pada dekade itu. My personal favorite were Metallica, Oasis, Nirvana, and Radiohead. Which were yours? Check it out :)


100 Greatest Rock Songs of 90`s from this site.

01: Nirvana - “Smells Like Teen Spirit”
02: U2 - “One”
03: Faith No More - “Epic”
04: Nine Inch Nails - “Closer”
05: Pearl Jam - “Alive”
06: Metallica - “Nothing Else Matters”
07: Red Hot Chili Peppers - “Under The Bridge”
08: Radiohead - “Creep”
09: R.E.M. - “Losing My Religion”
10: Pearl Jam - “Jeremy”
11: Alice In Chains - “Man In The Box”
12: Live - “Lightning Crashes”
13: Soundgarden - “Black Hole Sun”
14: Metallica - “Enter Sandman”
15: Nirvana - “All Apologies”
16: Stone Temple Pilots - “Plush”
17: Rage Against The Machine - “Killing In The Name”
18: Aerosmith - “Cryin’”
19: Alice In Chains - “Rooster”
20: Dishwalla - “Counting Blue Cars”
21: Stone Temple Pilots - “Interstate Love Song”
22: Jane’s Addiction - “Been Caught Stealing”
23: The Verve - “Bittersweet Symphony”
24: White Zombie - “More Human Than Human”
25: Oasis - “Wonderwall”
26: Blind Melon - “No Rain”
27: The Smashing Pumpkins - “Tonight, Tonight”
28: Beck - “Loser”
29: Collective Soul - “The World I Know”
30: Nine Inch Nails - “Hurt”
31: Guns N’ Roses - “November Rain”
32: Blur - “Song 2″
33: Third Eye Blind - “Semi-Charmed Life”
34: R.E.M. - “Everybody Hurts”
35: Rage Against The Machine - “Bulls On Parade”
36: Nirvana - “In Bloom”
37: Red Hot Chili Peppers - “Give It Away”
38: Soul Asylum - “Runaway Train”
39: Filter - “Hey Man Nice Shot”
40: Foo Fighters - “Everlong”
41: Radiohead - “Paranoid Android”
42: The Smashing Pumpkins - “Disarm”
43: Collective Soul - “Shine”
44: Bush - “Glycerine”
45: Tool - “Sober”
46: U2 - “Hold Me, Thrill Me, Kiss Me, Kill Me”
47: Alice In Chains - “Nutshell”
48: Gin Blossoms - “Hey Jealousy”
49: Rage Against The Machine - “Wake Up”
50: Live - “I Alone”
51: Marcy Playground - “Sex & Candy”
52: Beck - “Where It’s At”
53: Nirvana - “Lithium”
54: Pearl Jam - “Black”
55: Red Hot Chili Peppers - “Soul To Squeeze”
56: The Smashing Pumpkins - “1979″
57: The Offspring - “Self Asteem”
58: Radiohead - “High And Dry”
59: Nine Inch Nails - “We’re In This Together”
60: Foo Fighters - “My Hero”
61: Green Day - “Basket Case”
62: Better Than Ezra - “Good”
63: Spin Doctors - “Two Princes”
64: Tom Cochrane - “Life Is A Highway”
65: The Wallflowers - “One Headlight”
66: The Smashing Pumpkins - “Bullet With Butterfly Wings”
67: Primitive Radio Gods - “Standing Outside A Broken Phone Booth With Money In My Hand”
68: Alanis Morissette - “You Oughta Know”
69: Nirvana - “Come As You Are”
70: The Verve Pipe - “The Freshmen”
71: Red Hot Chili Peppers - “Scar Tissue”
72: Live - “All Over You”
73: Collective Soul - “December”
74: Dave Matthews Band - “Crash Into Me”
75: Prodigy - “Firestarter”
76: U2 - “Mysterious Ways”
77: Presidents of the United States of America - “Lump”
78: Green Day - “Good Riddance (Time of Your Life)”
79: Bush - “Machinehead”
80: Veruca Salt - “Seether”
81: Matchbox 20 - “Push”
82: Weezer - “Buddy Holly”
83: Radiohead - “Karma Police”
84: Rage Against The Machine - “Guerrilla Radio”
85: Lenny Kravitz - “Fly Away”
86: Tool - “46 & 2″
87: Third Eye Blind - “How’s It Going To Be”
88: Rammstein - “Du Hast”
89: The Offspring - “Come Out And Play”
90: Goo Goo Dolls - “Slide”
91: Prodigy - “Smack My B*tch Up”
92: Soundgarden - “Pretty Noose”
93: Green Day - “Longview”
94: Local H - “Bound For The Floor”
95: Harvey Danger - “Flagpole Sitta”
96: Counting Crows - “Mr. Jones”
97: Marilyn Manson - “Sweet Dreams”
98: Lo Fidelity Allstars - “Battle Flag”
99: Goo Goo Dolls - “Iris”
100: Lit - “My Own Worst Enemy”

Tuesday, February 26, 2008

Preseden

precedent —n. previous case etc. taken as a guide for subsequent cases or as a justification. —adj. preceding in time, order, importance, etc. [French: related to *precede]

Pocket Oxford Dictionary, 1994



“Mbak, lagu Indonesia sekarang udah banyak yang bagus ya.. dulu kan aku ga suka lagu Indonesia, tapi sekarang aku banyak yang suka..”

Itulah kalimat yang kudengar dari adikku yang duduk di kelas 3 SMA, yang aku tau dulu emang anti banget sama lagu-lagu Indonesia. Waktu SD aja sukanya sama The Beatles, hehe… Akhir-akhir ini memang aku liat udah banyak lagu Indonesia di koleksi MP3nya.

Pendapatnya menimbulkan pertanyaan di benakku. Memang, adikku bukan pakar musik yang berhak menilai bagus apa enggaknya musik Indonesia, tapi paling tidak pasti ada sesuatu yang berubah, entah selera adikku yang bergeser atau musik Indonesianya yang jadi lebih bagus. Pertanyaannya: musik Indonesia memang jadi lebih bagus atau jadi lebih mirip dengan musik impor?

Nah. Masalah mirip memirip ini udah jadi fenomena dari jaman dulu. Kalo kita inget lagu-lagu jadul yang ngetop pada masanya, ternyata banyak juga yang punya versi bahasa asingnya. (Atau, versi asli dalam bahasa asing yang diterjemahin dengan versi Indonesia? ). Contoh, lagu dangdut Pandangan Pertama sama Terajana, ada versi Indianya. Lagu Diantara Hatiku-hatimu, ada versi Inggrisnya yang judulnya Somewhere Between.

Kalau kita masuk jaman sekarang. Pernah merhatiin lagunya Mulan yang Makhluk Tuhan Paling Seksi? Bandingin sama Toxic-nya Britney Spears. Intro lagu Sempurna-nya Andra and The Backbone, bandingin sama intronya King of Convenience-nya Simon and Art Garfunkle (penyanyi jaman 70an, tanya bokap kalo ga tau siapa itu, hehe). Terus.. masih lagunya Andra and the gank, Musnah. Bandingin bagian ending, raungan gitarnya, sama lagu Buddy Holly-nya Weezer (ngetop pertengahan 90an). Terus, lagu Nidji yang jadi soundtrack sinetron, Jangan Pernah Lupakan, sama lagu Coldplay yang Trouble. Memang semua itu ga sama persis, ga mirip banget, tapi ada nada-nada yang mengingatkan aku sama lagu-lagu pendahulunya. Dan itu hanya beberapa contoh yang kebetulan keinget, masih banyak kok yang lain…

Plagiat? Bukan. Aku tidak setuju dengan istilah yang berbau vonis itu. Menurutku, hal-hal tersebut lebih berasal dari musical influence yang mungkin (semoga) memang tidak disadari oleh para pencipta musik Indonesia sehingga kebetulan aja lagunya jadi mirip lagu barat. Tapi kalo yang lagunya jadi bahasa Indonesia sementara musiknya 100% sama, ya sebut aja musical translation service, hehe…

Dulu waktu kuliah, pernah ada topik tentang Preseden. Bukan presiden lho… Waktu itu kita disuruh menggambar ulang dan mempelajari karya-karya arsitek terkenal, kemudian bikin desain baru berdasar apa yang sudah kita pelajari. Niru, tapi dikembangin pake ide kita sendiri. Pernah aku membaca, bahwa yang namanya kreatif itu tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Bahkan proses belajar menurut ki Hadjar Dewantara yang diterapkan di sebuah science park di Yogyakarta, Niteni Niroake Nambahi (mencermati, menirukan, menambahi) juga mengandung konsep “menirukan” dulu, baru menambahkan ide-ide kita sehingga bisa menciptakan sesuatu yang baru. Mungkin seperti itulah proses-proses yang dilalui para musisi kita.

Kembali ke musik Indonesia, menurutku para pemusik Indonesia sudah semakin pandai mencermati selera pasar dengan tetap mengembangkan kreativitas mereka berdasarkan latar belakang yang mempengaruhi mereka dalam bermusik. Bagus atau enggaknya, tergantung siapa yang menilai. Gitu aja

idenama@26 feb 08


Sekaten

Tahun ini, seperti juga tahun-tahun sebelumnya, di alun-alun utara Jogja baru digelar acara Sekaten. Dulu pas aku masih kecil, pagelaran ini selalu ditunggu sebagai sarana hiburan rakyat yang murah dan menyenangkan. Ya, dulu belum ada mall dan taman hiburan sih…

Mengenai sekaten dan asal usulnya bisa dilihat disini.

Waktu aku kecil sih sekaten identik dengan

  • arum manis

  • bolang baling

  • pentas lumba-lumba

  • kapal otok-otok yang bahan bakarnya minyak kelapa

  • tong setan

  • dremolen

  • dangdutan (dulu loooh, ga tau sekarang, hehe)

Tapi sekarang, aku lagi ingin ngobrolin sekaten itu sebagai brand. Dia punya nilai sejarah yang kuat, punya waktu pelaksanaan yang jelas, lokasinya pasti, dan dikenal banyak orang. Sebenarnya sekaten itu sangat potensial lho kalau digarap dengan baik, sebagai brand-nya Jogja.

Beberapa tahun yang lalu seperti yang kita tahu, udah ada upaya dari pemerintah daerah untuk mengangkat citra sekaten supaya “naik kelas” dengan mengemasnya dalam bentuk “expo”. Tapi kenyataannya, kurang berhasil juga…malah kata para penjual di dalamnya, pengunjung jadi semakin sepi.

Memang sih, mengaktualkan prinsip pemasaran textbook dalam dunia nyata agak sulit. Tapi kembali lagi ke hal yang paling mendasar dalam pemasaran, yang selalu terngiang di telinga (weits.. Ikke Nurjanah bangetss), “..it all begins with the consumer”.

Kira-kira nih… ada nggak ya upaya dari pihak berwenang mengenai sekaten itu, untuk mencari tahu, siapa sih pengunjung sekaten dan apa yang mereka inginkan? Misalnya aja nih, oooh ternyata.. para pengunjung sekaten itu pengen tema yang berbeda tiap tahun. Contoh, tema makanan khas jogja. Jadi sekaten itu dikemas sedemikian rupa sehingga tema makanan mendominasi arena, paling gampang untuk ngasih nama cluster-cluster atau lorong-lorong stand, walaupun isinya ga melulu makanan sih… Atau ternyata, pengunjung sekaten itu ingin sekaten dicreate menjadi Jogja mini lengkap dengan nama-nama jalan untuk menamai lorong-lorong stand (kalo yang ini sih udah pernah ada yang make idenya untuk pameran di JEC), atau apalah… Banyak yang bisa digali sebenarnya…

Jadi menurutku, manajemen pelaksanaan sekaten itu perlu digarap dengan serius. Sebuah contoh yang membuatku sangat terkesan adalah acara tahunan Tournament of Roses di Amrik sono, pada tahu kaaan.. Dulu TVRI rajin banget nayangin acara ini, apalagi waktu itu Indonesia pernah jadi peserta. Acara itu dilaksanakan sekali setahun, tempatnya selalu di Pasadena, acaranya karnaval kendaraan yang dihias bunga…gitu-gitu aja sih. Tapi liat dong pengunjungnya, banyak yang bela-belain dari luar kota bahkan luar negeri hanya untuk nonton. Dan apakah mereka dijamu dengan nyaman? Nggak juga, mereka cuma berdiri aja tuh dipinggir jalan panas-panasan… Tapi mereka tetep antusias tuh…

Memang, manajemen yang baik sangat menentukan hasil, termasuk di acara karnaval ini. Bayangkan aja, ketika karnaval tahun ini lagi berlangsung, para peserta udah mulai merancang kendaraan hiasnya untuk tahun depan, sesuai dengan tema tahun depan yang juga sudah diberikan oleh panitia.

Kalau sekaten digarap dengan tingkat keseriusan seperti itu, bisa nggak ya? Mulai dari yang sederhana dulu, identifikasi pengunjung sekaten dan pengunjung potensial. Terus bisa dilanjutin dengan jajak pendapat, mengenai keinginan mereka tentang sekaten. Terus studi banding dengan perayaan sejenis di tempat lain atau di negara lain. Ga harus kesana langsung, kan sekarang ada internet, jadi pengeluaran untuk biaya perjalanan dinas bisa ditekan ;p Sekalian aja ditunjang dengan internet (website/email) untuk kepentingan promosi keluar kota dan keluar negeri. Bisa juga sekalian untuk cari sponsor/pengisi stand dengan syarat memang sekatennya udah dibikin bagus dan layak dipromosiin. Perayaan untuk rakyat bukan berarti semua-semuanya harus digarap dengan konvensional lho… Apalagi di lokasi itu ada Keraton Yogyakarta yang merupakan warisan budaya yang penting dan sering dikunjungi wisatawan luar negeri.

Penting ga sih? ;p

idenama@26 feb 08

Tuesday, February 19, 2008

Buaya

crocodile n. 1 a large tropical amphibious reptile with thick scaly skin, a long tail, and long jaws.

alligator n. large reptile of the crocodile family with a head broader and shorter than a crocodile's.

(Pocket Oxford Dictionary, 1994)

"Lelaki buaya darat buset aku tertipu lagi…"
(Ratu)

"Buaya.. buaya.. buaya darat.. tak tau tak tau tak tau diri…"
(lupa penyanyinya, pokoke sekitar tahun 97-an ngetop banget, band yang personilnya cewek2 itu... aduh sapa si namanya...)

Itulah theme song para cewek yang sedang bermasalah dengan para cowok playboy. *Hyuuk…*

Jadi penasaran nih, kenapa ya para cowok yang banyak ceweknya disebut buaya. Aku jadi inget, punya seorang teman cowok yang dikasih gelar kehormatan “buaya” oleh teman-teman, gara-gara temen ceweknya banyak dan ganti-ganti. Tetapi, seorang teman (cowok) melakukan “pembelaan” bahwa cewek-cewek tadi hanya teman, bukan pacar. Dan si “tertuduh buaya” tidak pernah pacaran dengan lebih dari 1 orang dalam 1 waktu. Iya dehh…

Ngoms, kasian amat si binatang bernama buaya ya, apa iya sih dalam kenyataan dia termasuk binatang yang tidak setia pada satu pasangan? Padahal, kebanyakan binatang kan gitu juga. Aku pernah pelihara ayam kate, anaknya bisa kawin sama induknya. Hamster adikku juga gitu, beranak pinak dengan sukses tanpa peduli kawinnya sama siapa, hehe…

Yuk cari tahu tentang si buaya ini disini.

Kayaknya ga ada yang identik dengan cap playboy ya dalam prilaku si binatang buaya itu? Sampe sekarang aku masih belum bisa memahami istilah "buaya" untuk itu.


Ada ga yang bisa ngejelasin?

idenama@19 Feb 08

Pelanggan

customer n. 1 person who buys goods or services from a shop or business. 2 colloq. person of a specified kind (awkward customer). [Anglo-French: related to *custom]

(Pocket Oxford Dictionary, 1994)

Kata customer diterjemahkan menjadi langganan atau pelanggan, yaitu orang yang membeli barang atau jasa dari penjual/bisnis.

Mengapa tiba-tiba aku tertarik untuk membahas kata itu? Well, terus terang aku merasa tergelitik ketika membaca sebuah berita di koran hari ini. Tentang sebuah tema ulang tahun sebuah rumah sakit daerah, yang diberi tagline “Mengutamakan Mutu dan Kepuasan Pelanggan”. Mendengarnya sih aku merasa “sedikit” lega, karena sebagai orang yang tertarik dengan dunia pemasaran dan periklanan, hal itu terdengar sebagai sebuah pencerahan. Aku teringat lelucon seorang teman kantor tentang betapa mudahnya membuat slogan/tagline ketika kita adalah sebuah lembaga pemerintah, tinggal isi saja template ini “Dengan semangat hari …… (isi dengan nama peringatan dan tanggalnya) kita tingkatkan ……(tuliskan sebuah pernyataan dalam bidang yang terkait dengan hari peringatan tersebut).” Cool! Rumah sakit daerah itu membuktikan bahwa tidak semua lembaga pemerintah harus “mengisi template”…

Apalagi, RS itu juga sudah memasukkan unsur “kepuasan pelanggan”. Sebuah kesadaran dengan “rendah hati” bahwa peran pelanggan sangat penting dalam menentukan baik atau tidaknya sebuah pelayanan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak kasus ketidakpuasan pelanggan/pengguna layanan RS di Indonesia, mulai dari petugas yang “lupa” tersenyum sampai yang terparah adalah kejadian malpraktek. Secara umum, kesan yang tertangkap adalah bahwa para pelanggan adalah pihak yang sangat-sangat membutuhkan pelayanan dan RS sebagai penyedia layanan adalah pihak yang menyediakan layanan dengan .. ya.. secukupnya sajalah. Akibatnya ya… gitu deh…

Kembali lagi ke RS daerah tadi, dengan tagline itu, sadar atau tidak, dia sudah menjawab tantangan bahwa “the marketplace isn’t what it used to be”. Menurut pakde Kotler (2003), salah satu perubahan yang terjadi sekarang ini adalah bahwa pelanggan mengharapkan kualitas pelayanan yang lebih dan perlakuan khusus (customization). Tinggal implementasinya saja, mudah-mudahan memang konsekuen dengan tagline yang dimaksud.

Tetapi.. ternyata penggunaan kata “pelanggan” menimbulkan protes dari pihak dewan. Katanya sih, tagline mereka dapat menimbulkan asumsi bahwa RS itu berorientasi pada profit dan bisnis. Mereka menganggap tema itu tidak sesuai dengan semangat kemanusiaan yang biasa diusung oleh rumah sakit sebagai tempat pengobatan dan penyembuhan masyarakat. Jadi seharusnya gunakan kata “pasien”.

*Biasa? Kalau pengen yang tidak biasa, ga boleh ya? *

Rumah sakit memang tugas utamanya melayani pasien/orang yang sakit. Biasanya, orang sakit ingin diperlakukan dengan baik supaya cepat sembuh. Tapi, apakah mereka merasa punya kepentingan di RS ketika mereka sedang sehat? Selain untuk kepentingan membezuk, sepertinya RS cenderung dijauhi oleh orang yang sehat.

Misalnya, RS itu justru pengen melepaskan diri dari stereotip RS yang hanya berfungsi untuk menyembuhkan orang sakit. Boleh nggak kalo RS itu ngadain seminar ngundang dokter ahli untuk menjelaskan tentang jenis penyakit baru yang belum pernah diderita oleh masyarakat di sana, supaya mereka paham cara mencegahnya sebelum terjadi? Atau, ngadain open house buat anak-anak sekolah untuk mengenal profesi medis, siapa tau mereka tertarik untuk jadi dokter di masa depan? Atau, mengadakan lomba bayi sehat dengan sponsor untuk menyediakan hadiahnya? Atau, mengadakan program senam hamil secara reguler?

Bukankah dengan hal-hal tersebut, RS justru dapat meningkatkan eksistensinya dalam kedudukan luhur dan memiliki jiwa besar untuk mengabdi pada pelanggan..eh.. masyarakat?

idenama@19 Feb 08


Saturday, November 24, 2007

Turn Left Signal

Merasa familiar dengan tulisan judul itu? Ingat-ingat, setiap kali mau belok ke kiri di perempatan, yang lampu merahnya berbentuk tanda panah, hampir pasti ada tulisan itu. Tidak usah mencoba translate ke bahasa Indonesia dengan memikirkan grammar ya, soalnya pasti bingung sendiri. Tapi oke-lah, idenya bisa ditangkap kan: ada kata turn (belok), left (kiri), dan signal (tanda).


Anyway, bicara masalah arah, banyak teman-teman dari luar Jogja sering kebingungan sendiri ketika bertanya arah kepada Jogjanese.
"Mas, kalau mau ke Malioboro, lewat mana ya?""Oh...ini lurus saja ke arah Barat. Nanti kalau ketemu Tugu, belok ke arah Selatan. Nanti belok ke Timur, terus aja ikuti jalan memutar, nanti Mas sampai di lampu merah, belok ke Barat, ikuti jalan, ada lampu merah lagi belok ke Selatan, itu udah Malioboro."Pusing nggak sih? Paling-paling yang bertanya akhirnya menyanyi dalam hati “Timur-Tenggara-Selatan-Barat Daya-Barat Barat Laut, Utara Timur Laut…”. Tapi, mana yang utara, mana yang selatan ya? Nah lho…

Di Jogja, orang sering memberi arah jalan bukan dengan kiri dan kanan, namun dengan menggunakan arah mata angin. Utara, Timur, Selatan, maupun Barat. Tak hanya di pedesaan, bahkan di kotanya, arah mata angin telah menjadi bagian tak terpisahkan dari suatu perjalanan. Bagi mereka yang tidak terbiasa, tentu saja ini kerap menyulitkan perjalanan mereka.
Sebenarnya arah mata angin ini cukup mudah dilogika. Kalau Anda berpikir untuk mengamati jatuhnya bayangan benda yang terkena sinar matahari, itu akan sangat merepotkan. Rahasia arah mata angin di Jogja adalah pedomannya. Bila dilihat di peta, Jogja terletak di sebelah selatan Gunung Merapi. Kota Jogja, tepat berada di sebelah selatan Gunung Merapi. Nah, Gunung Merapi inilah yang dijadikan pedoman untuk menetapkan arah mata angin di Jogja.
Di manapun di kota Jogja, Gunung Merapi akan menjadi arah utara. Dan jalan-jalan yang menuju menjauhi Gunung Merapi berarti ke arah Selatan. Sisanya dapat dilogika sendiri (ingat-ingat lagi deh lagunya, hehe). Berkat acuan Gunung Merapi ini, orang pun dapat dengan mudah menentukan arah yang ia maksud.

Kalau begitu, jangan-jangan nantinya tanda “Turn Left Signal” juga harus disesuaikan dengan posisi perempatannya. Misalnya di Perempatan Selokan-Jalan Kaliurang, kalau kamu naik kendaraan dari arah Selatan, berarti tandanya jadi “Turn West Signal”.
Bagaimana?